• header
  • header

Selamat Datang di Website AL AZHAR ISLAMIC BOARDING SCHOOL # Beriman, Beribadah, Beramal & Berakhlak #Terima Kasih Atas Kunjungan Anda # Sehubungan dengan perkembangan penyebaran Covid-19 dan berdasarkan rapat Panitia Penerimaan Santri Baru Tahpel 2020-2021 maka dikeluarkan keputusan berikut ini; 1. Pendaftaran Offline ditutup untuk semestara waktu dan diganti dengan pendaftaran secara Online dengan alamat : http://gg.gg/pendaftaran-smpitalazharbpp 2. Jika kasus Covid-19 telah usai dan masih terdapat kuota santri baru maka Pendaftaran Offline akan dibuka kembali.

Pencarian

Kontak Kami


AL AZHAR ISLAMIC BOARDING SCHOOL

NPSN : 69986344

Jl.Mulawarman RT.007 Kel.Teritip Kec.Balikpapan Timur, Balikpapan


info@alazhar-ibs.sch.id

TLP : 081347721677/0813300


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 13554
Pengunjung : 7427
Hari ini : 8
Hits hari ini : 20
Member Online : 0
IP : 3.238.130.97
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Autentisitas Al- Qur’an ( Pengantar Kajian Perbandingan dengan Taurat dan Injil)




Autentisitas Al- Qur’an

( Pengantar Kajian Perbandingan dengan Taurat dan Injil.)

Penulis: M. Abdurachman. Rochimi, Lc*

 

 

Pendahuluan

 

Dalam rentang masa dua puluh tiga tahun, kitab suci Al- Qur’an diturunkan secara berkala[1] untuk memenuhi tuntutan setiap perkembangan dakwah Rasulullah di tengah-tengah bangsa Arab. Al- Qur’an adalah mukjizat Rasulullah yang selalu eksis menemani kaum muslimin dalam menghadapai pergolakan kehidupan dalam setiap zaman. Oleh karenanya Al- Qur’an sebagai rujukan pertama dalam Islam (al- Mashdar al Awwal) selalu dipelajari, diteliti dan dikaji oleh khalayak ramai dengan berbagai maksud dan tujuan.

 

Dalam perjalanannya, Al- Qur’an selalu mendapat serangan bertubi dari kaum orientalis. Orisinalitas dan autentisitas Al- Qur’an digugat, tudingan terhadap aneka ragam bacaan Al- Qur’an dan  kelainan mushaf para sahabat dengan mushaf Ustmani selalu dilontarkan tanpa adanya pijakan kuat. Keagungan Al- Qur’an pun dipertaruhkan dalam menghadapi badai pemikiran kaum orientalis yang kian menggurita dan bahkan telah mampu mempengaruhi pola pikir sebagian pemikir muslim dalam menginterpretasikan dan memposisikan ayat-ayat tuhan tersebut.

 

Beberapa penulis dari kalangan orientalis mengemukakan teori "miring" tentang Al- Qur’an. Seperti Noldeke, menganggap bahwa nabi Muhammad pernah lupa tentang wahyu sebelumnya, sedangkan Rev. Mingana menegaskan bahwa nabi Muhammad maupun masyarakat muslim tidak pernah menganggap Al- Qur’an secara berlebihan, kecuali setelah meluasnya wilayah kekuasaan Islam.[2] Atau T. Lester menjelaskan bahwa dulu para ilmuan Soviet melihat Islam berdasarkan sikap keragu-raguan ideologi. N.A. Morozov misalnya, dengan mudah memberi alasan bahwa hingga masa Perang Salib tidak dapat dibedakan (Islam) dengan agama Yahudi dan hanya setelah masa itu ia memiliki ciri khas tersendiri, sedang Muhammad dan khalifah pertama tidak lebih dari tokoh dalam cerita bohong.[3] Atau pun G.R. Puin dengan arogannya mengatakan bahwa Al- Qur’an tidak lebih dari naskah cocktail (campuran) yang tidak semuanya dapat dipahami di zaman nabi Muhammad sekalipun.[4]  

 

Semua itu hanya omongan kosong belaka yang disampaikan tanpa dasar yang kuat, mengaburkan sejarah dan menutupi kebenaran. Tetapi jika teori itu dibiarkan tersebar begitu saja tanpa dicounter, tentu bukan langkah tepat. Misunderstanding tentang Islam dan sumber ajarannya akan selalu menghantui setiap orang, bahkan orang Islam yang lemah keimanannya dapat menjadi korban.

 

Al- Qur’an, Taurat dan Injil[5]; Memiliki Ajaran yang Sama

 

Allah mengutus para nabi kepada hamba-hamba-Nya di bumi ini, sejak diturunkannya Adam as. hingga diutusnya nabi Muhammad saw sebagai Rasul terakhir bagi seluruh umat manusia. Risalah yang dibawa oleh para nabi semuanya sama, yakni menyeru untuk menyembah tuhan yang satu, tak ada sekutu bagi-Nya, yaitu Allah swt (Tauhid).

 

Nuh as. menyeru kaumnya beribadah kepada Allah yang Esa dan tidak menyekutukan-Nya. Beliau dengan tegas menyampaikan hakikat risalah tauhid serta menyatakan dirinya termasuk ke dalam golongan orang-orang muslim. Fakta ini dipertegas dalam Al- Qur’an, “Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikit pun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)”.[6] Begitupun dengan nabi Ibrahim as yang merupakan “sumber” para nabi di jazirah Arab, juga menyatakan dirinya masuk ke dalam golongan orang-orang muslim.[7] Dalam Al- Qur’an disebutkan; “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”.[8] Nabi Musa juga menyeru bani Israil menyembah Allah yang Agung. Begitupun halnya dengan nabi Isa yang menyeru Bani Israil beribadah kepada Allah semata dengan demikian tentu ajaran yang di bawa oleh Isa tersebut merupakan bagian dari risalah yang telah dibawa oleh nabi Muhammad. Nabi Isa, nabi Muhammad dan para rasul lainnya semuanya mengemban misi yang sama yakni mengajarkan bagaimana menyembah tuhan mereka.[9]

 

Jadi sudah jelas bahwa semua Rasul mengemban amanah yang sama yaitu  menyeru umat manusia beribadah kepada Allah, seluruh risalah mereka bermuara pada dasar-dasar akidah, ibadah dan akhlak[10]. Allah berfirman; “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” [11]. Dalam menjalankan tugas mulia tersebut para rasul menerima wahyu dari tuhan sebagai sumber ajaran dari risalah yang mereka bawa. Sebagian mereka menerima kitab suci dari Allah; nabi Musa menerima Taurat, nabi Isa menerima Injil dan nabi Muhammad menerima al- Qur’an.

 

Dalam Al- Qur’an sendiri dijelaskan bahwa Allah menurunkan kitab suci kepada sebagian nabi. Tapi amat disayangkan kitab-kitab samawi tersebut mengalami perubahan dan penambahan yang dilakukan oleh agamawan dan ilmuan di masanya untuk tujuan dan kepentingan tertentu.[12] Jika kita teliti dengan cermat maka paling tidak kita akan menemukan dua nuktah penting mengenai kitab-kitab samawi tersebut dewasa ini:

 

  1. Bagian dari kitab-kitab samawi masih autentik dan tidak mengalami perubahan.
  2. Bagian lain dari kitab-kitab samawi yang telah dirubah, atau bagian lain yang telah hilang, dihapus atau diganti.[13]

 

Al- Qur’an sebagai kitab samawi terakhir menegakkan panji-panji kebenaran dan membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Allah berfirman, “Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu;”[14] Dengan demikian al- Qur’an membenarkan bagian yang autentik dari kitab-kitab samawi yang tak terjamah dari perubahan dan pemalsuan tangan-tangan jahil.[15]

 

Jika ditinjau dari nilai kebenaran dengan kacamata al- Qur’an, paling tidak isi dalam kitab Taurat dan Injil dapat diklarifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu:

 

  1. Bagian yang sesuai dan senafas dengan kandungan kitab suci al- Qur’an dan Sunnah Nabawiyah, atau sesuai dengan ajaran Islam, maka kita menerima bagian ini. Bukan karena bagian tersebut telah tertera dalam kitab-kitab itu tetapi karena telah termaktub dalam kitab suci al- Qur’an atau Sunnah Nabawiyah; atau kita menerima bagian tersebut karena sesuai dengan ajaran Islam.
  2. Bagian yang bertentangan dengan kandungan kitab suci al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah; atau berlawanan dengan ajaran Islam, maka bagian ini harus kita tolak dan kita tinggalkan.
  3. Bagian yang tidak disinggung oleh al- Qur’an dan Sunnah Nabawiyah serta tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka hendaknya kita tidak menerima bagian ini dan tidak pula menolaknya.[16]

 

Hingga saat ini dari kitab-kitab samawi tersebut yang masih autentik dan original hanyalah al- Qur’an yang berfungsi sebagai hudan linnas. Al- Qur’an sendiri mengandung banyak teori-teori ilmiah yang sangat bermanfaat bagi kemajuan peradaban manusia dan tidak akan pernah bertentangan dengan fakta alam yang berlaku.[17] Inilah rahmat yang Allah berikan kepada kaum nabi Muhammad.

 

Al- Qur’an; Pengumpulan dan Proses Penulisannya.

 

Di atas sempat kami singgung bahwa di antara kitab-kitab samawi saat ini yang autentik dan original hanyalah al- Qur’an saja, sedangkan kitab-kitab yang lain telah mengalami perubahan yang sangat signifikan. Mengapa al- Qur’an tidak bisa di sentuh oleh tengan-tangan jahil? Mengapa mukzizat terbesar nabi Muhammad ini akan tetap kekal hingga kiamat kelak tanpa mengalami perubahan isi sedikit pun? Dalam konteks ini Allah telah berfirman; “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”[18] Allah yang Maha Perkasa telah berjanji akan memelihara dan menjaga al- Qur’an sehingga perubahan al- Qur’an dari yang aslinya mustahil terjadi.

 

Penulisan dan pengumpulan al- Qur’an merupakan hal yang esensial dalam menjaga keautentikan al- Qur’an. Dengan mengkaji bagaimana al- Qur’an tersebut ditulis dari masa kehidupan rasul hingga penjagaan umat Islam terhadap autentisitas al- Qur’an sampai saat ini dapat dijadikan pijakan perbandingan dengan kitab-kitab samawi lainnya[19]. Paling tidak penulisan dan pengumpulan al- Qur’an dapat dibagi menjadi dua periode besar, yaitu :

 

1. Pengumpulan Al- Qur’an Pada Masa Nabi Muhmmad

 

Setiap kali Rasulullah menerima wahyu, beliau selalu membacakannya di depan para sahabat[20] dengan baik dan pelan-pelan, sehingga para sahabat mudah menghafalkan lafadz-lafadz wahyu tersebut serta dapat memahami makna dari wahyu itu.[21]

 

Rasulullah adalah sosok manusia yang diberikan kecerdasan yang luar biasa. Beliau dapat menghafalkan al- Qur’an dan menyampaikannya kepada para sahabat tanpa ada kesalahan sedikit pun. Wahyu tersebut dan pemahamannya “tertanam” dalam diri rasul, oleh karena itu mustahil bagi rasul menyampaikan wahyu yang salah kepada para sahabat. Ini adalah keutamaan yang Allah berikan kepada nabi Muhammad.  Allah berfirman, “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya, Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.[22]

 

Al- Qur’an merupakan kitab suci yang menjadi sumber utama nabi dan para sahabat, mereka selalu membacanya siang hari dan sepanjang malam. Mengumandangkan ayat-ayatnya ketika melakukan shalat atau di luar waktu shalat. Bahkan Jibril a.s. dan rasulullah saling membacakan al- Qur’an setiap tahun hingga di tahun wafatnya nabi, Jibril membacakannya dua kali.[23]

 

Para sahabat selalu bersemangat menghafalkan ayat-ayat al- Qur’an serta mengkaji al- Qur’an tersebut dalam majlis-majlis. Jika terdapat musykilah dalam pemahamannya mereka bergegas menanyakannya kepada rasul. Pada saat itu Al- Qur’an menjadi pusat perhatian besar para sahabat, segala daya dan upaya tercurahkan kepada pembelajaran dan pengkajian al- Qur’an sebagai wahyu tuhan. Maka tak heran jika kemudian banyak di antara para sahabat yang telah hafal al- Qur’an dengan hafalan yang sangat baik dan benar.

 

Selain dengan cara menghafalkan ayat-ayat al Qur’an tersebut, untuk menjaga kautentikan al-Qur’an, rasul memerintahkan para sahabat terbaik untuk mencatatnya, di antara para sahabat yang mencatat al- Qur’an pada masa rasul adalah; Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thallib, Muawiyah, Abani bin Said, Khalid bin Walid, Abi bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit.[24] Bahkan rasullullah pernah melarang menuliskan segala sesuatu kecuali al- Qur’an, hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya pencampuran antara al- Qur’an dengan hadist.[25]

 

2. Pengumpulan al- Qur’an Pada Masa Sahabat.

 

Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya bahwa al- Qur’an pada masa rasul telah dijaga keautentikannya dengan hafalan yang dilakukan oleh para sahabat dan penulisan ayat-ayat Allah tersebut, akan tetapi tulisan ayat-ayat al- Qur’an itu tersebar pada kayu, daun, kulit hewan dan alat-alat tulis lain yang digunakan oleh orang-orang Arab tempo dulu. Hal itu terjadi karena al- Quran diturunkan secara bertahap yakni selama kurun waktu dua puluh tiga tahun. Sehingga umat Islam menunggu dan terus mengkaji hingga wahyu terakhir turun yang berujung pada wafatnya nabi Muhammad saw.

 

Setelah rasulullah wafat, Abu Bakar berusaha untuk menyatukan al- Qur’an yang tersebar tersebut dalam satu mushaf[26] Maka Abu Bakar menyuruh seseorang yang cerdas, tekun, sholeh, berpengetahuan luas, dapat dipercaya dan taat beribadah ia bernama Zaid bin Tsabit untuk melakukan tugas mulia ini. Pengumpulan ayat suci al- Qur’an itu tidak dilakukan oleh Zaid bin Tsabit sendiri, tetapi ia mengajak orang-orang yang hafal al- Qur’an dari para sahabat senior untuk barsama-sama meneliti dan menelaah al- Qur’an yang akan dikumpulkan tersebut, di antara mereka adalah Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thallib, Ibn Mas’ud, Abi bin Ka’ab[27] dan tentunya penumpulan dan penulisan ini dibawah pengawasan Abu Bakar ra.[28]

 

Tujuan Abu Bakar mengumpulkan al- Qur’an hanyalah untuk menyatukannya dalam suatu tempat sehingga dapat terjaga dengan baik. Tetapi setelah meluasnya daerah kekuasan Islam dan terjadinya perbedaan pendapat di antara umat Islam dalam membaca al_Qur’an bahkan sebagian mereka mengunggulkan bacaan mereka masing-masing.[29] Yang mana kondisi tersebut tentunya dapat memicu keretakan di antara kaum Muslimin, maka dengan sebab itulah pada masa kekuasaan khalifah Ustman bin Affan al- Qur’an ditulis kembali dalam satu mushaf yang hingga saat ini kita kenal dengan mushaf Ustmani. Tujuan utama dari penyusunan mushaf Ustmani tersebut adalah untuk menyatukan umat Islam yang jumlahnya semakin menggurita dan tersebar luas di belahan dunia.

 

Untuk pekerjan mulia dan penting ini, Ustman bin Affan membentuk tim solid yang terdiri dari para sahabat senior dan dapat dipercaya, yaitu: Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin al ‘Asy dan Abdurrahman bin Harist bin Hisyam. Setelah tim terbentuk, maka Ustman mulai melakukan langkah jitu. Adapun metodologi dan langkah-langkah yang diambil oleh Ustman bin Affan dalam penulisan al-Qur’an itu di antaranya adalah:

 

  1. Utsman menyuruh tim penulisan mushaf Ustmani untuk mengambil al-Qur’an yang telah disatukan oleh Abu Bakar.
  2. Ustman mempertegas kepada anggota tim untuk tidak menulis kecuali benar-benar yakin bahwa yang ditulis itu adalah ayat suci al- Qur’an yang sampai kepada mereka secara tawatir dari nabi Muhammad saw.
  3. Khalifah Ustman mengingatkan anggota tim bahwa pekerjaan mereka sangat penting dan harus dilakukan secara sungguh-sungguh. Pada prakteknya pekerjaan tim ini dibawah arahan Ustman bin Affan.
  4. Ustman menyuruh tim agar tidak menulis kecuali ayat-ayat suci al- Qur’an yang murni dari Rasulullah ketika beliau hidup.
  5. Khalifah Ustman bin Affan menyuruh tim agar menulis al- Qur’an berdasarkan ayat dan surat secara tertib.[30] Susunan ini berdasarkan perintah rasul disaat beliau hidup dan ijtihad para sahabat jika terjadi perbedaan di antara mereka dengan mengambil pendapat yang paling benar dan hujjah yang paling konkret.[31]

 

Penjagaan Umat Islam Terhadap Autentisitas Al- Qur’an

 

Dari masa diturunkannya wahyu kepada nabi Muhammad hingga saat ini, banyak sekali kaum muslimin yang memiliki ghirah dalam menghafal ayat-ayat suci al- Qur’an. Mulai dari anak- kecil hingga orang dewasa, wanita dan laki-laki semuanya memiliki semangat untuk menghafalkan al- Qur’an.[32] Selama kurun waktu empat belas abad al- Qur’an selalu dikaji, dipelajari, diajarkan, dibaca bahkan dihafal oleh kaum muslimin. Adapun keutamaan belajar, mengajar dan membaca Al- Qur’an di antaranya adalah:

  1. Utsman bin ‘Affan mengatakan bahwa nabi Muhammad pernah bersabda; “Yang terbaik di antara kamu sekalian adalah yang mempelajari al- Qur’an kemudian mengajarkan kepada orang lain.” Kata-kata yang sama juga disampaikan oleh ‘Ali bin Abi Thalib.
  2. Menurut Ibn Mas’ud, nabi Muhammad berkomentar; “Barang siapa yang membaca satu huruf dari al- Qur’an ia akan diberi imbalan amal shaleh dan satu amal shaleh akan mendapat pahala sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif lâm mîm sebagai satu huruf, melainkan alif satu huruf, lâm satu huruf dan mîm satu huruf.”
  3. Di antara pahala seketika bagi yang mempelajari al- Qur’an adalah penghargaan umat Islam agar bertindak sebagai imam shalat, suatu kedudukan penting yang secara khas diberikan di awal permulaan Islam.
  4. Umar bin Khattab menjelaskan bahwa nabi Muhammad bersabda; “Melalui kitab ini, Allah meninggikan beberapa orang dan merendahkan yang lain di antara kita”
  5. Dalam menjelaskan tentang kebaikan orang-orang yang menghafal al- Qur’an, Abdullah bin Amr mengabarkan bahwa nabi Muhammad bersabda, “Seseorang yang mencurahkan hidupnya untuk al-Qur’an akan diminta di hari kiamat naik ke atas untuk membaca dengan hati-hati seperti yang ia lakukan selama di dunia, di mana ia akan masuk surga setelah bacaan ayat terakhir.”
  6. Bagi yang bermalas-malasan dan tidak mengindahkan kitab suci al- Qur’an, nabi Muhammad menentangnya dengan sebuah peringatan. Ibn Abbas menceritakan bahwa nabi Muhammad pernah bersabda, “Seseorang yang tidak berminat terhadap al- Qur’an laksana rumah yang telah hancur”[33]

 

Dengan ramainya kegiatan dan aktivitas dalam “menghidupkan” ayat-ayat suci al- Qur’an yang tiada henti dan selalu berlanjut merupakan bukti kuat bahwa al- Qur’an dari pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad hingga saat ini dapat terjaga keautentikannya, dapat dilindungi keasliannya. Dr. Yusuf Qadhowi, menyebutkan bahwa salah satu ciri khas al- Qur’an adalah kitab tersebut terjaga dari adanya perubahan dan pemalsuan. Inilah salah satu poin yang membedakan al- Qur’an dengan kitab-kitab samawi lainnya.[34]

 

Penutup.

 

Yahudi dan Kristen tidak diragukan lagi merupakan agama samawi, hanya saja sikap keragu-raguan muncul dalam hal penulisan Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pada mulanya Kitab Perjanjian Lama dianggap sebagai wahyu ilahi, namun pada masa berikutnya dianggap sebagai karya nabi Musa. Teori terakhir mengatakan bahwa beberapa sumber (lebih dari seribu tahun) bertambah akan adanya lima kitab karya Nabi Musa. Begitu pun dengan injil nabi Isa (new testament) telah lenyap sejak awal dan diganti dengan penulis yang tidak memiliki hubungan keilmuan dengan sumber pertama.[35] Coba bandingkan fenomena ini dengan ribuan manusia berjiwa shaleh yang hidup bersama dan menemani nabi Muhammad serta berperan secara aktif di waktu perang dan damai, di kala susah dan senang semuanya terlibat dalam proses mendekumentasikan ayat al- Qur’an dan dilakukan secara transparan yang melibatkan banyak orang serta tidak ada keterputusan sanad.

 

Sebagai catatan akhir penulis ingin menekankan high value al- Qur’an sebagai sumber acuan umat Islam tersebut hanya terdiri dari tiga puluh juz yang mengandung makna sangat luas dan tidak terbatas, bahkan jika setiap orang menggunakan waktunya sepanjang hayat untuk mengkaji kitab suci itu maka ia tidak akan pernah “menguras” seluruh ilmu yang tersurat maupun tersirat dalam al- Qur’an, dengan demikian tak heran jika al- Qur’an akan tetap “hidup” sepanjang masa. Itulah salah satu keunggulan al- Qur’an sebagai mukjizat terbesar nabi Muhammad, Saw.

 

* Guru di SMP IT Al Azhar Boarding School

 

[1]  Al- Qur’an diturunkan secara berkala agar memudahkan umat nabi Muhammad dalam menghafal dan memahami firman-firman Allah tersebut sehingga dapat terhindar dari kesalahan. Tentu al-Qur’an berbeda dengan kitab-kitab samawi sebelumnya yang diturunkan sekaligus. Allah berfirman; “Berkatalah orang-orang kafir: “Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). (QS. Al-Furqân: 32). Lihat, Dr. Fathi Muhammad Gharib, Futuhat ar Rahman Fi Jam’I al Qur’an, Hal, 25

 

[2]  Prof. Dr. M. Musthofa Al- A’zami, The History of The Qur’anic Text  from Revelation to Compilation, A Comparative Study with the Old and New Testaments, hlm. 56

 

[3]  Ibid., hlm. 2.

 

[4]  Ibid., hlm. 3

 

[5]  Pada awalnya Taurat dan Injil merupakan kitab suci yang diturunkan kepada nabi Musa dan Isa, kitab-kitab tersebut mengandung muatan positif dalam kehiduan manusia, membawa risalah ilahi yang haqq. Allah berfirman; “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” (QS. Al-Mâidah: 47) Dalam ayat lain Allah berfirman; “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. (QS. Yûnus : 94 )

 

[6]  QS. Yûnus : 72

 

[7]  Prof. Dr. Muhammad Sayyid Ahmad Al Musayyar. Al Masih wa Risâlatuhu Fi Al Qur’an. Maktabah As Syofa, Kairo. cet. II. 2005, hlm 16.

 

[8]  QS. Ali-‘Imrân: 67

 

[9]  Syeikh Muhammad Al Ghazali, Ma’rakah Al Mushaf, Dar Nahdhatu al Mishri. 1996. hlm. 34.

 

[10]  Prof. Dr. Muhammad Sayyid Ahmad Al Musayyar , Op.cit. hlm.17

 

[11]  QS. Al-Anbiyâ`: 25

 

[12]  Banyak kandungan perjanjian lama dan perjanjian baru (Old Testament and New Testament) yang bertentangan dengan Al- Qur’an. Seperti tudingan yang dilontarkan oleh orang Yahudi dalam perjanjian lama terhadap para nabi. Nabi Ibrahim yang dituduh sebagai sang pendusta, Luth yang sering minum khamar dan berzina, Ya’qub seorang penipu, Harun membuat anak sapi dari emas untuk disembah, Musa dan Harun yang menghianati tuhannya, Daud berzina dengan istri tetangganya dan merencakan pembunuhan terhadap tetangganya itu. Atau sifat-sifat tuhan yang sangat menyimpang dari kebenaran, seperti tuhan itu memiliki tubuh dan tampak seperti manusia, Dia makan, minum dan tidur. Tuhan memiliki anak laki-laki. Tuhan juga melakukan kesalahan dan terkadang juga lupa dan menyesal atas ketentuan yang ditetapkan-Nya. Lebih jelasnya lihat : Dr. Muhammad Anwar Hamid Isa. Buhuts Fi Al Yahudiyah; an Nasy’ah, al Masôdir, al Aqôid, al Firaq. Cet. I. 2001, hlm 83-125.

 

[13]  Dr. Sofwat Hamid Mubarak, Mudkhal Li Dirâsah Al Adyân, hlm, 145

 

[14]  QS. Al-Mâidah : 48

 

[15]  Yang berhubungan dengan pemalsuan yang dilakukan orang-orang Yahudi, Allah berfirman; “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan” (QS. Al-Baqarah : 79) dalam ayat lain Allah berfirman, “Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya” (QS. Al-Mâidah: 13). Adapun yang berhubungan dengan orang-orang Nasrani, firman-Nya; ” Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami orang-orang Nasrani, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya…” (QS. Al-Mâidah: 14). Dari ayat-ayat tersebut dapat diketahui bahwa sebagian dari kitab-kitab Yahudi dan Nasrani telah dirubah, sebagian lainnya telah dilupakan atau hilang.

 

[16]  Dr. Sofwat Hamid Mubarak, Op.cit. hlm. 152

 

[17]  Untuk keterangan lebih lanjut lihat : Dr. Maurice Buccaile, Al- Qur’an Al Karim wa At Taurah wa Al Injil wa Al Ilm, Dirâsât al Kutub al Muqaddasah Fi Daui al Ma’ârif al Haditsah. Maktabah Madbuli, cet. II. 2004. hlm 141- 276. 

 

[18]  QS. Al-Hijr : 9

 

[19]  Ada tiga kitab samawi yang masih diakui oleh pemeluk agama masing-masing. Yaitu Taurat, Injil dan al- Qur’an.

 

[20]  Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan sahabat Rasulullah. Definisi sahabat menurut para ulama ahli hadist adalah setiap muslim yang melihat rasulullah meskipun hanya sekilas dan ia meninggal dalam beragama Islam. Adapun di kalangan ulama usuluddin terdapat perbedaan di antara mereka dalam mendefinisikan sahabat, perbedaan mereka terletak pada waktu orang muslim itu hidup bersama rasulullah. Di antara mereka berpendapat bahwa sahabat adalah orang muslim yang menemani nabi selama satu tahun dan ada juga yang berpendapat bahwa sahabat adalah yang menemani rasul selama kurun waktu dua tahun. Menurut Dr. Musthofa Muhammad Abu Imarah di antara pendapat para ulama tersebut yang paling rajih adalah pendapat pertama yakni ulama ahlu al hadist. Lebih lengkapnya lihat : Dr. Musthofa Muhammad Abu Imarah, Dirâsât Fi al Marfû’ wa al Mauqûf wa al Maqtû’. cet II. 2004. hlm. 49-52.

 

[21]  Dr. Fathi Muhammad Gharib, Futuhat ar Rahman Fi Jam’I al Qur’an, Hal, 19

 

[22]  QS. Al-Qiyâmah : 16-19

 

[23]  Dr. Fathi Muhammad Gharib, Op.cit. hlm. 20

 

[24]  Ibid, hlm. 31

 

[25]  Ibid, hlm. 32

 

[26]  Meskipun dalam buku-buku sejarah banyak yang mengklaim bahwa yang menyatukan al- Qur’an pertama kali adalah Ustman bin Affan yang dikenal dengan mushaf Ustmani, tapi faktanya bahwa Abu Bakarlah merupakan pelopor dalam menyatukan al- Qur’an setelah rasulullah wafat. Lebih jelasnya, lihat; Dr. Fathi Muhammad Gharib, Futuhat ar Rahman Fi Jam’I al Qur’an, Hal, 55

 

[27]  Setiap para sahabat tersebut hafal al- Qur’an dengan baik dan memiliki tulisan ayat-ayat al- Qur’an yang disampaikan oleh rasul ketika beliau hidup. Mereka menyatukan hafalan dan tulisan mereka sehingga tidak mungkin terjadi adanya kesalahan dalam pengumpulan dan penulisan al- Qur’an serta mustahil terjadinya penambahan dan pengurangan walau satu ayat pun.

 

[28]  Dr. Fathi Muhammad Gharib, Op.cit. hlm. 20

 

[29] Al- Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf, hal ini bertujuan agar al- Qur’an mudah dipahami oleh umat Islam.banyak pendapat para ulama dalam mendefinisikan maksud dari tujuh huruf ini. Di antara pendapat para ulama tersebut yang paling râjih bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh lahjah. Untuk lebih jelasnya lihat : Dr. Thoha Abdul Khalik. Fathul ‘Alîm Fi ‘Ulum at Tanzîl. Darul Kutub, Kairo, cet I. 1994. hlm, 50-66.

 

[30]  Susunan ayat dan surat tersebut sebagaimana yang kita saksikan saat ini pada mushaf Ustmani.

 

[31]  Dr. Fathi Muhammad Gharib, Op.cit. hlm. 115

 

[32]  Bandingkan dengan taurat dan Injil yang jarang sekali dihafal oleh para pemeluknya bahkan di kalangan para pendeta sekalipun.

 

[33]  Prof. Dr. M. Musthofa Al- A’zami, Op.cit, hlm 60

 

[34]  Dr. Yusuf Qordhawi. Kaifa Nata’amal Ma’a Al- Qur’an Al Adzim. Dar el Syorouk, Kairo. cet. IV. 2005. hlm. 28

 

[35]  Prof. Dr. M. Musthofa Al- A’zami, Op.cit, hlm 70

 

 

Daftar Pustaka:

 

  1. Al- Qur’an
  2. Dr. M. Musthofa Al- A’zami, The History of The Qur’anic Text  from Revelation to Compilation, A Comparative Study with the Old and New Testaments
  3. Prof. Dr. Muhammad Sayyid Ahmad Al Musayyar. Al Masih wa Risâlatuhu Fi Al Qur’an. Maktabah As Syofa, Kairo. cet. II. 2005
  4. Syeikh Muhammad Al Ghazali, Ma’rakah Al Mushaf, Dar Nahdhatu al Mishri. 1996
  5. Dr. Muhammad Anwar Hamid Isa. Buhuts Fi Al Yahudiyah; an Nasy’ah, al Masôdir, al Aqôid, al Firaq. Cet. I. 2001
  6. Dr. Sofwat Hamid Mubarak, Mudkhal Li Dirâsah Al Adyân
  7. Dr. Fathi Muhammad Gharib, Futuhat ar Rahman Fi Jam’I al Qur’an
  8. Dr. Thoha Abdul Khalik. Fathul ‘Alîm Fi ‘Ulum at Tanzîl. Darul Kutub, Kairo, cet I. 1994
  9. Dr. Yusuf Qordhawi. Kaifa Nata’amal Ma’a Al- Qur’an Al Adzim. Dar el Syorouk, Kairo. cet. IV. 2005.
  10. Dr. Musthofa Muhammad Abu Imarah, Dirâsât Fi al Marfû’ wa al Mauqûf wa al Maqtû’. cet II. 2004.
  11. Dr. Maurice Buccaile, Al- Qur’an Al Karim wa At Taurah wa Al Injil wa Al Ilm, Dirâsât al Kutub al Muqaddasah Fi Daui al Ma’ârif al Haditsah Maktabah Madbuli, cet. II. 2004.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas